presented
by eukaristia at 09.01
A. Pendahuluan
John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9
Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958.Ia
mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D
pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul“Animal Education”. Watson dikenal
sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.
Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal
dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus
menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun
1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi
konsumen.
John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di
Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as
the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya,
psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak
mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi.
Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang
mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus
dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang
nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui
bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang
metode-metode obyektif dalam psikologi.
Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting.
Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya
bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka
akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan
memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut,
dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan
ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.
B. Pandangan utama Watson
Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science.
Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya
tempat di dalamnya.Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati
diri sebagai natural science. Salah satu halangannya adalah keputusan untuk
menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh karenanya
kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psikologi.
Beberapa pandangan utama Watson:
Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology).
Yang dimaksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga
perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai
jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi,
juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert,
learned dan unlearned
Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu
perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan
sangat penting. Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik,
perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free
will.
Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja.
Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun
akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Watson
menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah.
Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme
dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang
berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak
jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind.
Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun
dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.]
Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka
psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi
adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai
dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak
yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple
reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital
dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang
merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum
utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning
respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah
proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia
(subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak
kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
Pandangannya tentang memory membawanya pada
pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan
dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata
lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
Proses thinking and speech terkait erat. Thinking
adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan
berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih
dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture
lainnya.
Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa
perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adlaah
ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh
banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind
dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam
psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen
terkontrol.
C. Teori dan Konsep Behaviorisme dari Watson
Teori belajar S-R (stimulus – respon) yang langsung ini disebut
juga dengan koneksionisme menurut Thorndike, dan behaviorisme menurut Watson,
namun dalam perkembangan besarnya koneksionisme juga dikenal dengan psikologi
behavioristik.
Stimulus dan respon (S-R) tersebut memang harus dapat diamati,
meskipun perubahan yang tidak dapat diamati seperti perubahan mental itu
penting, namun menurutnya tidak menjelaskan apakah proses belajar tersebut
sudah terjadi apa belum. Dengan asumsi demikian, dapat diramalkan
perubahan apa yang akan terjadi pada anak.
Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorisme
ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia
sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang
membentuk kepribadian manusia.Behaviorisme tidak bermaksud mempermasalahkan
norma-norma pada manusia. Apakah seorang manusia tergolong baik, tidak baik,
emosional, rasional, ataupun irasional. Di sini hanya dibicarakan bahwa perilaku
manusia itu sebagai akibat berinteraksi dengan lingkungan, dan pola interaksi
tersebut harus bisa diamati dari luar.
Belajar dalam teori behaviorisme ini selanjutnya dikatakan
sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respons
yang ditampilkan oleh individu. Respons tertentu akan muncul dari individu,
jika diberi stimulus dari luar. S singkatan dari Stimulus, dan R singkatan dari
Respons.
Pada umumnya teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar
behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif
terhadap stimuli di sekitar lingkungannya. Orang akan bereaksi jika diberi
rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus dilakukan
secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat berubahnya
perilaku individu. Misalnya dalam hal kepercayaan sebagian masyarakat tentang
obat-obatan yang diiklankan di televisi. Mereka sudah tahu dan terbiasa
menggunakan obat-obat tertentu yang secara gencar ditayangkan media televisi. Jika
orang sakit maag maka obatnya adalah promag, waisan, mylanta, ataupun obat-obat
lain yang sering diiklankan televisi. Jenis obat lain tidak pernah digunakannya
untuk penyakit maag tadi, padahal mungkin saja secara higienis obat yang tidak
tertampilkan, lebih manjur, misalnya : Syarat terjadinya proses belajar dalam
pola hubungan S-R ini adalah adanya unsur: dorongan (drive), rangsangan
(stimulus), respons, dan penguatan (reinforcement). Unsur yang pertama,
dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan
yang sedang dirasakannya. Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan
tersedianya sejumlah uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong
untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya. Unsur
dorongan ini ada pada setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat
menggebu, ada yang lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidaknya.
Unsur berikutnya adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini
datang dari luar diri individu, dan tentu saja berbeda dengan dorongan tadi
yang datangnya dari dalam. Contoh rangsangan antara lain adalah bau masakan
yang lezat, rayuan gombal, dan bahkan bisa juga penampilan seorang gadis
cantik dengan bikininya yang ketat.
Dalam dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan bisa
terjadi, bahkan diupayakan terjadinya yang ditujukan kepada pihak sasaran agar
mereka bereaksi sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan mengajar ataupun
kuliah, di mana banyak pesertanya yang tidak tertarik atau mengantuk, maka sang
komunikator instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan sejumlah
cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan bertanya tentang masalah-masalah
tertentu yang sedang trendy saat ini, atau bisa juga dengan
mengadakan sedikit humor segar untuk membangkitkan kesiagaan peserta dalam
belajar.
Dari adanya rangsangan atau stimulus ini maka timbul reaksi di
pihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam, bergantung
pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi
dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah yang disebut
dengan respons dalam dunia teori belajar ini. Respons ini bisa
diamati dari luar. Respons ada yang positif, dan ada pula yang negatif. Yang
positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respons terhadap
stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan
yang negatif adalah apabila seseorang memberi reaksi justru sebaliknya dari
yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
Unsur yang keempat adalah masalah penguatan (reinforcement).
Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditujukan kepada orang yang sedang
merespons. Apabila respons telah benar, maka diberi penguatan agar individu
tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi.
Seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba
dibentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahkan bisa
menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi
tidak mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk di kemudian hari
adalah bisa menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan. Bahkan
yang lebih dikhawatirkan lagi akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan
buku lagi atau alat tulis lainnya. Itu penguatan yang salah dari seorang kakak
terhadap adiknya yang masih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku.
Barangkali akan lebih baik jika kakaknya tadi tidak dengan cara membentak
kasar, akan tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain
berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya, “Bagus!, coba
kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebih bagus”.
Dengan cara penguatan seperti itu, sang anak tidak merasa
dilarang menulis. Itu namanya penguatan positif. Contoh penguatan positif lagi,
setiap anak mendapat ranking bagus di sekolahnya, orang tuanya memberi hadiah
berwisata ke tempat-tempat tertentu yang menarik, atau setidaknya dipuji oleh
orang tuanya, maka anak akan berusaha untuk mempertahankan rankingnya tadi pada
masa yang akan datang.
Ada tiga kelompok model belajar yang sesuai dengan teori belajar
behaviorisme ini, yaitu yang menurut namanya disebut sebagai hubungan stimulus-respons
(S-R bond), pembiasaan tanpapenguatan (conditioning with no reinforcement), dan
pembiasaan dengan penguatan (conditioning through reinforcemant). Ada satu lagi
teori belajar yang masih menganut paham behaviorisme ini adalah teori
belajar sosial dari Bandura.
D. Penutup
Penekanan Teori Behviorisme adalah perubahan tingkah laku
setelah terjadi proses belajar dalam diri siswa. Teori Belajar Behavioristik
mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Pelopor-pelopor pendekatan
Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku
manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karena itu, dapat diubah
dengan belajar baru. Behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang
martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak
psikologis, yaitu :
1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk,
bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau
buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan
berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola
bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya.
2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah
lakunya sendiri,menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta
mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri
pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan
dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang
dicetuskan olehGage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil daripengalaman.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi
belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan danpembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar.
Teori behavioristik dengan
model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai
individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode
pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila
diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori
ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output
yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus
dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan
tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena
itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya
perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik
adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2)
Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4)
Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The
Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran
behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat
berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak
dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran,
tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak
dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1)
hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991).
Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat
respon.
Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara
stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat
diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya
perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun
dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan
karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena
kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata,
yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses
perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi
stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih
menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan
menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu
keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki,
dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para
pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar
pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan
program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan
stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement),
merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan
Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak
mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau
hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah
menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya
variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan
yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang
mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata
perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat
berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya
stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya
pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati
tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk
berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori
ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa
pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta
didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang
mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik
memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran.
Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement)
cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses
belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan
Guthrie, yaitu:
· Pengaruh
hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara dampak
psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si
terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
· Hukuman yang
mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar
ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang
diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat
negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak
pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul
berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai
stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya,
seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar
tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi
jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan)
dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk
memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan
dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement).
Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat
positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat
respons.
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap
arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini
adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku
yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan
semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan
akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi
pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of
knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran
adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses
berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari
proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan
tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap
pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru
itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai
objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh
karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan
menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus
dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar
pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga
hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran
dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk
berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena
sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan
stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.
Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang
ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah
terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus
dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara
ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga
pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau
ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan
yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan
sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada
aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta
didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol
belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada
penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang
menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi
pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta
mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan
kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada
buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali
isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada
hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara
terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil
belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara
“benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah
menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang
terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai
kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar
secara individual.
Rujukan
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational
Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally]
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan.
Jakarta: CV. Rajawali
Moll, L. C. (Ed.). 1994. Vygotsky and Education:
Instructional Implications and Application of Sociohistorycal Psychology.
Cambridge: Univerity Press
Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi
Variable. Jakarta: Depdikbud
Gagne, E.D., (1985). The Cognitive Psychology of School
Learning. Boston, Toronto: Little, Brown and Company
Light, G. and Cox, R. 2001. Learning and TeacTeori Belajar
Behavioristik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar