Senin, 21 September 2015

Ikhlas itu…

quotes pagi ini adalah bagaimana kita menerima suatu kejadian dengan sebuah keikhlasan. 






Mungkin beberapa dari kita berpendapat bahwa untuk mencapai suatu keikhlasan memerlukan perjuangan dan kemampuan lebih. Tetapi menurut saya keikhlasan bisa didapat saat dimana kita rela dalam melakukan sesuatu dan mencoba tidak mengingat kembali hal yang sudah kita lakukan itu. Karena jika kita mengingat kejadian itu maka sama saja dengan kita sedikit banyak ada rasa sombong dalam diri kita. Mengapa demikian? Mungkin kita sendiri yang bisa menjawabnya seperti kenapa kita merasa bangga saat mengingat kembali hal baik yang kita lakukan? Dan kadang kita merasa kecewa atas apa yang sudah kita lakukan tapi semestinya tidak untuk kita lakukan.
Sebenarnya definisi untuk ikhlas itu banyak sekali,namun yang bisa saya gambarkan adalah responsibility kita dalam menerima keikhlasan itu sendiri. Respon? Apa itu? Respon adalah rangsangan yang kita berikan saat pikiran alam bawah sadar kita diharuskan untuk berfikir. Itulah mengapa sulit mengatakan bahwa untuk menentukan seseorang sudah benar benar melakukan sesuatu dengan sebuah keikhlasan. Namun tindakan tindakan nya lah yang bisa menggambarkan bahwa orang itu ikhlas ataupun belum. Bisa kita lihat dari raut wajah yang tenang dan penuh kepastian. Jadi seseorang yang ikhlas akan merasa dirinya memberinya tanpa meminta imbalan apapun, jadi membuat raut wajahnya tenang tanpa beban karena apa yang dilakukannya demi kebaikan semata.
Namun, bagaimana dengan ikhlas dalam merelakan? Seperti pada era sekarang itu anak remaja yang ditinggal pergi oleh kekasihnya, ya bisa dikatakan pacaran. Zaman ini,banyak sekali mereka (para muda mudi) yang melakukan hubungan “pacaran” tadi mengatakan bahwa mereka ikhlas saat pasangan mereka memutuskan untuk tidak lagi bersama”nya”.namun, benarkah itu?
Seperti yang kita ketahui bahwa, tidak mudah untuk melupakan orang yang pernah hadir dalam hidup kita dan segala kenangan serta apa apa yang telat dilakukannya bersama kita semenjak kita mengenalnya. Sepertinya sangat naif jika kita mengangngap kita ikhlas saat kita barusaja ditinggalkan. Namun beberapa orang berpendapat bahwa untuk apa mengingat orang yang sudah dengan sendirinya ingin pergi dari kehidupan kita? Ya mungkin atas dasar itu mereka bisa mengatakan bahwa mereka mengikhlaskan kepergiannya (bukan berarti melupakan kenangannya) cuman mereka lebih bisa dalam mengatur emosi mereka sehingga kenangan kenangan bersama orang yang telah pergi tadi bisa sedikit banyak terobati saat mereka ingat bahwa ikhlas tadi menjadi dasar pemikiran mereka.
Tidakkah sakit hati? Mungkin saja iya, karena sesuatu yang paling menyakitkan adalah kepergian seseorang yang mungkin saja bisa membuat hidup kita lebih berarti. Namun keep move karena jika kita melawan rasa sakit itu, maka semakin membesar pula rasa sakitnya. Ya tepatya seperti tumor, jika kita sering berfikir berat dan jarang sekali istirahat maka tumor baik”pun akan membesar dan mungkin nantinya menjadi parasit. Ya tentunya merusak organ dalam tubuh kita. Itu yang saya dapatkan dari dosen saya.

Bagaimana ikhlas itu dikatakan benar benar ikhlas? Ikhlas disini bisa saya jabarkan bahwa saat kita melihat orang yang pernah ada dalam kehidupan kita pergi, bisa kita relakan dan tetap kita doakan demi segala kebaikannya. Membuat pikiran pikiran positif bahwa tanpa dia kita bisa lebih baik dan tentunya kebaikan juga akan menyertainya. Namun jangan sampai kita melupakannya itu sama aja kita mengembalikan bahwa kita tidak ikhlas dalam melepasnya. Biarlah raganya pergi namun kenangannya akan tetap bersemi bersama alam bawah sadar kita.
semoga bermanfaat . share ya dan komennya ditunggu. DimAP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar